Senin, 11 Juli 2011

bercinta dengan kata

Biduk di langit masih kering tertawa
Melihat aku yang tetap bercumbu dengan khayal
Menari kata dalam balutan puisi
Membingkaikan rasa dalam bait
Puisi adalah aku
Aku bercinta dengan kata
Dan merangkai menjadi satu kenangan indah
Dekapan kalimat panjang membuai mesra diriku
Kutemukan ada detak lemah setia

Jumat, 08 Juli 2011

kutandai

Telah kutandai matamu dengan telaga dan rembulan bening
agar kuberteduh dan mengusap lekang wajahku dan membiarkan bayangku
meresap ke dalam sunyimu.

Telah kutandai bibirmu dengan pantai dan perahu
akulah laut yang tak bosan mengecup-ngecup sampai gairahku mendidih
agar kuberlabuh dan menambat tali rinduku dan membiarkan kehidupanku
bersandar di pelabuhanmu.

Telah kutandai hatimu dengan taman dan bunga mawar
kutanam sebatang cinta kugembalakan kupu-kupu di langit berawan
dibawanya butir-butir gerimis untuk kugambar pelangi
di lengkung senyummu.

Minggu, 03 Juli 2011

pagi ini

Katakan saja, pagi ini tak ada matahari menyapa dengan hangat pelukan, tak ada berkas sinar menggores dinding kamar. Dan kaca jendela, hanya bingkai kosong tanpa setangkai mawar.

Kuharap angin menari di selasar rumah. Menghibur rambutmu dengan hembus sejuk gunung. Menghapus mimpi buruk yang mungkin menggantung di bulumata. Angin, sampaikan salamku, rindu menggunung sampai puncaknya.

Barangkali di celah pintu ada derit tersisa. Kalimat yang tak dapat kucegah ketika kaubiarkan langkah melengang dalam kembara. Luas padang, merentas ilalang, menggagas setiap fatamorgana sebagai rangkaian doa. Pepohonan meranggas sebab daundaunnya kukirimkan padamu.

Puisi ini untukmu, Adinda. Kalimat pengganti tiap jeda percakapan. Lembaran daun bertanda embun, kecup yang kutitipkan. Ketika mulut tak mampu menerjemahkan dada, pada dekap tiada.

Kamis, 30 Juni 2011

jiwa yang resah

Malam menggantung sepi di tiap tiang-tiang pagarnya
gelap yang menyeramkan menjaga pintu gerbang
dan keheningan menyeruak masuk kedalam kamar jiwa yang resah
yang sedang membaca buku yang hampir lapuk ditelan masa
kekhidmatan membaca membuat jiwa yang resah terlena
tak memperhatikan rembulan yang tersenyum penuh makna
melihatnya lewat jendela yang terbuka
mengundang hasrat keinginan sang malam.

Senin, 27 Juni 2011

digerayangi lelah

Tubuh yang digerayangi lelah
terbaring memberikan dirinya pada pelukan peraduan
yang dengan ikhlas menerima tubuh yang tebal dibalut keinginan
perlahan tak tersadari
kelopak mata melangkah menuju muaranya
dan gerbang bawah sadar terbuka mengundang derit-derit
memanggil merinding yang tertelungkup di ujung gelap
cahaya menyeruak masuk mendorong gelap
hingga terpental ke celah-celah dinding malam.

Jumat, 24 Juni 2011

jerat-jerat keengganan

Bedug ditabuh gema kalimat Illahi menembus alam memenuhi semesta raya
dan sosok impian menggelepar terlempar kealam kesadaran
sementara sosok-sosok tegang terlena dalam belaian keheningan
diselimuti dingin menuntun tangan menarik kehangatan.
sosok tubuh terjaga menyempurnakan pandangan menyapu ruangan
jerat-jerat keengganan perlahan terlepaskan
dan hati menuntun langkah menuju padasan yang berisi air penyucian.
doa-doa menyembur teratur dari bibir berpengetahuan
syukur terucapkan dan harapan dibiaskan
bersyukur pada karunia Illahi akan sebuah 'jidat'
yang mampu sempurna bersujud bicara pada-Nya.

Kamis, 23 Juni 2011

saat kita memulai

Gigil kangen ini, katamu pilu, serupa tatih langkahku yang gamang
meniti dari sunyi ke sunyi dengan tembang lirih melantunkan namamu
Kita merangkai segala kisah lama itu pada berlembar-lembar puisi
mencatatnya dengan jemari gemetar seraya meniupkan asa
pada setiap jejeran huruf yang menandai memori kolektif kita
Lembayung pucat dan semilir angin bertiup lembut
memahat getar asmara kita di langit,
menyisakan spektrum keheningan,
saat kita memulai pendakian hasrat itu sendiri-sendiri
lalu memandangnya dari kejauhan dengan tatap nanar
sambil berbisik lirih: bentang jarak adalah niscaya namun
cinta adalah episode yang tak akan usai dan
padam cahayanya di tungku hati..